Yuuuk...! Daripada Mancing Keributan, Mending Mancing Ikan!

Kamis, 21 Juli 2011

Penjara Seorang Penulis

Oleh: Hendra Sugiantoro

Banyak karya fenomenal lahir dari balik penjara. Kerangkeng yang membatasi gerak tak menyurutkan alam pikiran untuk menggoreskan pena. Penjara adalah tamasya yang membebaskan hati manusia menyampaikan keluh kesah dan pemikiran. Dari balik penjara, seorang anak manusia kuasa melakukan perlawanan!

Kita ambil contoh. Di penjara Sukamiskin, Bung Karno melahirkan Indonesia Menggugat. Beberapa karya Bung Hatta ditulis dalam penjara atau saat mengalami pembuangan oleh kumpeni. Sebut di antaranya Alam Pikiran Yunani dan tulisan yang dibukukan Krisis Ekonomi dan Kapitalisme. Tidak hanya di negeri ini, Ibnu Taimiyyah ataupun Sayyid Quthb, misalnya, pernah melahirkan karya tulis di penjara. Penulis perempuan, Nawal El-Saadawi, yang dipenjara saat rezim Anwar Sadat pun menghasilkan tulisan. Hanya dengan kertas toilet dan pensil alis, Memoar dari Penjara Perempuan ditorehkan penulis perempuan asal Mesir itu.

Adanya karya yang lahir dari rahim penjara tentu tidak datang seketika. Jika karya tulis bermunculan, ada kegelisahan yang memang menyeruak. Jasad boleh dibatasi ruang, tapi tak mampu membatasi jiwa. Jiwa-jiwa yang berkehendak melakukan perubahan, jiwa-jiwa yang menjadikan pena sebagai senjata. Jiwa yang menggerakkan Buya Hamka menulis Tafsir Al-Azhar saat dipenjara. Begitu juga Pramoedya Ananta Toer yang menjadikan masa pembuangan di Pulau Buru sebagai tamasya pena.
Ketika penjara menjadi lahan produktivitas menulis bukan berarti kita harus dipenjara untuk bisa menulis. Mungkin saja ada yang menganggap wajar menulis saat di penjara karena penjara identik dengan kesunyian dan kesendirian. Kondisi seperti itu dianggap bisa memfokuskan pikiran. Anggapan itu milik sebagian orang. Namun, penjara bukan jaminan melahirkan karya-karya pena. Tidak mungkin bisa mengayunkan pena jika tak hidup dalam kehidupan. Mereka yang menulis di balik terali besi tidaklah berangkat dari ruang kosong. Mereka ada dalam kehidupan dan dari kehidupan melahirkan tulisan.
Penjara bagi seorang penulis melahirkan produktivitas. Penjara tak hanya dalam ruang sempit dibatasi jeruji besi, penjara tak hanya dalam pulau asing. Kehidupan yang penuh ketidakadilan dan kezaliman adalah ”penjara” yang menghendaki kita untuk melawan. Kita hidup dalam penjara ketika menyaksikan ketimpangan sosial dan rakyat jelata hidup kesusahan. Di tengah hiruk-pikuk kemunafikan dan kebohongan, kita merasakan keterasingan. Kita masih dalam penjara ketika menyaksikan rakyat belum merdeka 100% di negeri ini. Di “penjara” ini, tulisan-tulisan kita lahir untuk perlawanan dan perubahan! Wallahu a’lam.

* Tulisan untuk berbagi spirit

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar